*Narimo ing Pandum*

Menulis adalah bekerja untuk keabadian…!

Lupa

with 6 comments

Keberadaan bangunan tua peninggalan sejarah nenek moyang kian hari kian mengenaskan. Coretan memenuhi tiap sisi bangunan, salah satunya. Kebanyakan acuh bahkan sama sekali tak perduli keberadaannya. Apa untungnya? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dari diri mereka yang terlanjur tak perduli.

Pemberitaan di Suara Merdeka beberapa minggu lalu tentang akan dibangunnya Mall di kawasan tanah milik TNI AD, menarik perhatian beberapa kalangan. Bahkan muncul issu Salatiga bakal menjadi kota Mall. Sebegitukah? Bisa jadi kalau memang hal itu terwujud. Melihat hampir sebagian dari kota kecil itu telah dipenuhi pertokoan dan sejenisnya. Baca entri selengkapnya »

Written by Subiharto

Januari 19, 2010 at 10:37 am

Ditulis dalam Journal

Ditandai dengan ,

Seremonial Ulang Tahun

tinggalkan komentar »

Ulang tahun menjadi budaya hura dimana-mana. Pesta pora pun seolah menjadi sesuatu yang berbau seremonial—condong pada sebuah formalitas—nan wajib bagi mereka yang (biasa) merayakannya. Maka tak heran jika keluarnya biaya besar menjadi suatu hal yang otomatis mengiringi kemeriahan acara macam ini.

Hal ini telah menjadi doktrin dalam pikiran manusia di mana dalam memaknai ulang tahun dominan dengan budaya pesta yang berdalih ucapan syukur atas apa yang telah ia dapat dan berharap akan hadir hal-hal yang lebih baik, mendatang. Baca entri selengkapnya »

Written by Subiharto

Desember 17, 2009 at 2:18 am

Ditulis dalam Pendidikan

(Bukan) Persembahan Terakhir

with 7 comments

Ini adalah satu-satunya foto bersama yang masih tersimpan hingga kini. (foto oleh: Subiharto)

Angin syahdu mendendang senandung pilu. Serentetan takdir memutar kisah kita, menghanguskan pepucuk rengas rindu, membekukan air rawa cinta. Hingga detik ini yang tak bisa kucegah terjadi adalah: gemersik dedaun yang beradu, desau semilir angin, kecipak ikan-ikan di kolam, derit engsel karat pada pintu dan jendela kamarku—selalu saja membisikkan namamu di hatiku.

Seluruh kenangan cinta kita merasuki pikiranku seperti arwah penasaran. Sepoi angin masa lalu cinta selalu membawa aroma tanah basah menusuk tulang-tulang rinduku. Aku seperti kelopak-kelopak yang tanggal dari tangkai bunga semesta. Aku seperti rajawali yang kehilangan satu sayap: memaksa diri untuk terbang mengarungi lautan luas. Menyisir sepi: diriku menjadi sepatah kata yang tak bersuara. Tapi aku tak pernah merasa sendirian: masih ada sahabat-sahabat yang berkeliaran di sekitarku, nafas hangat mereka menyentuh jiwaku.

Ijinkan aku nyanyikan kidung-kidung masa lalu seperti dulu kau pernah memandang fajar harapan dalam hatiku. Biarkan aku terbaring dalam tidurku, karena jiwa ini telah dirasuki cinta, dan biarkan aku istirahat, karena batin ini memiliki segala kekayaan kenangan cinta kita. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Tawamu adalah tawaku. Tangismu adalah air mataku. Kau masih tetap bayang-bayangku yang terbaik: di mana hatiku berada, di situ juga kau berada. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan caramu mencintaiku sebab cuma kau yang kupandang untuk mencintai.

Dua tahun berlalu mengiringi jalinan cinta kita, namun ku anggap ini bukan akhir dari mimpiku melihatmu bahagia. Terbentangnya jarak, tak mampu mengaburkan tatapan mata ini memandangmu.

Kini kau telah bersamanya merajut mimpi baru tanpa cinta. Teringat harapmu: ”Semoga aku bisa mencintainya”. Sungguh mulia mimpimu, mengorbankan atas nama cinta demi membahagiakan orang tuamu. Teriris hati ini mendengar kemuliaan hatimu. Meruntuhkan bendungan air mata jika ku teringat tanpa sengaja.

Aku adalah sebatang manusia lemah. Iringan do’a dari dasar hati mengharap kebahagiaan menyertaimu dan (menyempatkan) melupakan harap atas kebahagiaan diri ini. Semoga…!

Kini bait demi bait puisiku kutata bersama kawan yang mendengar jeritan hati ini terlantun, memekarkan kembang kenangan, mencoba hidupkan taman lampau kita. Hatiku selalu berpuisi untukmu. Dan ini (bukan) persembahan terakhir untukmu.

Salatiga, November 2009
Bejo & TD

Written by Subiharto

November 28, 2009 at 2:19 am

Ditulis dalam Sastra

Ditandai dengan , ,

Turut Sedih di Balik Harapan dan Do’a

tinggalkan komentar »

12 November 2009.Aku sempat kaget mendengar berita dari seorang kawan. Ia mengirim pesan singkat dan mengatakan kalau Bapaknya Ninon—kawan se-organisasi—sakit struke, dan di rawat di rumah sakit Elisabeth—Semarang. Baca entri selengkapnya »

Written by Subiharto

November 22, 2009 at 1:07 am

Ditulis dalam Sastra

Ditandai dengan

Tangis Harap akan Kebijakan

tinggalkan komentar »

PERBINCANGAN hangat mewarnai komunitas dunia maya dan kaum pemerhati hiruk-pikuk dunia politik. Panasnya pembahasan, wacana siapa yang akan duduk dan (hingga) telah duduk di kursi senayan pun selalu menuai kontroversi. Pertanyaan dalam konteks meragukan orang-orang terpilih di kursi pemerintah bak reflek seseorang ketika kaget mendengar ledakan meriam. Baca entri selengkapnya »

Written by Subiharto

November 7, 2009 at 1:13 am

Ditulis dalam Politik

Ditandai dengan , ,

Berbahasa Indonesia; Bisa karena Terbiasa

tinggalkan komentar »

Menilik adanya salah satu fungsi Bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa pemersatu, secara tidak langsung seluruh elemen masyarakat akan belajar Bahasa Indonesia agar dapat bekomunikasi dengan beragam kelompok masyarakat dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Ironis, bahasa yang dulu diperjuangkan oleh pemuda hingga akhirnya disahkan dalam sumpah pemuda tahun 1928, kini kian hari kian terkikis oleh bahasa lain. Hal ini diungkapkan salah seorang cendekiawan sosial, Ariel Heryanto dalam salah satu artikelnya yang bejudul “Engdonesia” (Kompas : 30 Oktober 2005). Inti dari ungkapan Ariel adalah maraknya “plesetan” Bahasa Indonesia yang menjadi lingua franca Bangsa Indonesia, menjadi “bahasa gaul” dengan mengkolaborasikan bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah dan bahasa-bahasa yang lain. Baca entri selengkapnya »

Written by Subiharto

November 7, 2009 at 1:09 am

Ditulis dalam Pendidikan

Ditandai dengan ,