Merantau, Demi Ilmu Sang Anak
ILMU pengetahuan dan pengalaman adalah hal yang paling berharga dalam hidup. Dengan ilmu dan pengalaman yang luas, kita bisa melakukan segalanya dengan mudah. Di Indonesia ini, minat orang untuk menyekolahkan anaknya masih tergolong rendah. Sebagian masyarakat masih memiliki pemikiran bahwa tanpa sekolah pun, mereka bisa hidup, dan ada pula yang beralasan karena biaya pendidikan sangat mahal. Selain itu ada juga yang berpedoman “wong kere yo kere, ra usah ngimpi dadi wong gedhe”, Baca entri selengkapnya »
Bank Syariah Joint LSM, membangun UMKM
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada seluruh pengelola Blog Kompasiana yang telah menyelenggarakan kompetisi ini. Selain itu terimakasih pula kepada Kompasianers, dan para Blogger yang telah bergabung dengan kompetisi ini.
Saya pribadi sangat mendukung sekali dengan adanya kompetisi ini. Selain dapat menggugah calon-calon penulis masa depan—dengan iming-iming hadiah, juga dapat membuka wacana kamunitas dunia maya ini untuk tahu lebih dalam tentang Bank Syariah, sebelum akhirnya bergabung menjadi nasabah dan bagi yang telah tergabung, bisa menjadi lebih yakin dengan menjadi nasabah Bank Syariah. Baca entri selengkapnya »
Pendidikan
Tulisan ini saya temukan di dalam catatan Anand Krishna , di Facebook-nya. Bagi saya hal ini sangat menarik dan sesuai dengan pesan-nya, meminta pada kawan-kawan untuk men“Share”kan pesan ini ke semua kalangan, maka saya putuskan untuk mem“posting”nya disini. Harapan saya, setelah kawan-kawan membaca catatan ini, kawan-kawan dapat dan mau memberikan “sumbangsih” pada dunia pendidikan kita yang makin hari makin memprihatinkan ini. Baca entri selengkapnya »
Hapus Point Card yang Dilembagakan
SUATU hari aku ingin bisa naik sepeda. Dengan tekad yang bulat, aku belajar sendiri karena orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya. Hari pertama belajar, kutuntun sepeda mondar-mandir di jalan. Panasnya terik matahari, menawarkan menggosongkan kulitku, seolah-olah melarangku untuk belajar. Hari kedua, aku mencoba naik, kukayuh sepeda sambil duduk di bawah karena aku belum sampai sadel.
-
Sepeda yang aku pakai belajar waktu itu adalah sepeda ibuku yang besar. Jatuh-bangun tidak membuatku menyerah, satu tujuanku, aku ingin bisa naik sepeda. Akhirnya aku bisa naik sepeda hanya dengan belajar dua hari saja. Lain dengan teman-teman seumuranku–bahkan lebih tua dari aku, mereka sebagian besar belum berani sama sekali. Memang mereka sudah dibelikan sepeda mini, tapi namanya tidak berani, disuruh, dipaksa dan dimarahi orangtuanya pun, tetap tidak berani.
