Hambatan-hambatan Menjadi Guru yang Profesional
Mananggapi apa yang telah di ungkapkan oleh Bapak Tohir Zainuri yang ditulis pada 2 Mei 2007 yang lalu, ada beberapa hal yang menurut saya kurang tepat untuk di jadikan suatu hambatan menjadi guru yang profesional. Sebenarnya untuk menjadi seorang guru yang profesional itu tergantung dari niatnya. Mengapa demikian? karena tanpa niat semua tidak akan terjadi dan bilapun terjadi itu namanya mukjizat atau wahyu. Menurut saya jika seorang guru mempermasalahkan mengenai gajinya itu bisa dikatakan bahwa guru itu niatnya bukan menjadi guru yang mengabdikan diri dalam untuk meningkatkan mutu pendidikan tetapi ingin menjadikan profesi guru tersebut sebagai sumber penghasilan atau kekayaan dan bukan untuk menjadi guru yang profesional.
Kita semua tahu namanya manusia, punya satu ingin dua, punya dua ingin tiga, punya tiga ingin empat dan seterusnya. Dari sini dapat dilihat bahwa belum tentu jika gaji guru dinaikan maka seorang guru akan meningkatkan kinerjanya dan benar-benar menyerahkan waktunya untuk kepentingan anak didiknya. Jadi sesuai dengan pemaparan di atas maka yang menjadi problem untuk menjadi guru yang profesional adalah minimnya niat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dari guru.
Mengenai tugas-tugas administrasi yang menurut Bapak Zainurie memberatkan guru. Pada dasarnya semua orang tahu bahwa sebagai seorang guru itu tidaklah ringan atau gampang karena seorang guru harus ngemong dan mengajari anak-anak yang jumlahnya tidak sedikit. Menurut saya tugas-tugas administrasi seperti membuat KTSP, silabus, RPP dan lain sebagainya itu adalah sarana memunculkan dan menyalurkan inovasi-inovasi dalam perbaikan mutu pendidikan dan peningkatan kualitas guru. Mengapa harus ditulis? Supaya disaat kita lupa kita dapat lebih mudah mengingatnya dengan membaca ulang dan jika hasil itu benar-benar baik, maka hasil tersebut dapat di gunakan oleh calon guru dan guru-guru yang lain untuk diterapkan pada saat PBM.
Guru yang sudah menekuni profesinya di atas tiga tahun bukan suatu jaminan bahwa dalam PBM itu selalu benar. Jadi tugas-tugas administrasi sekolah ini bukan merupakan suatu hambatan untuk menjadi guru yang profesional melainkan sangat mendukung seorang guru untuk menjadi profesional. dan menurut saya yang menjadi hambatan guru adalah kurangnya waktu untuk bertukar pengalaman dengan guru-guru yang lain tentunya pengelaman-pengalaman PBM yang baik.
Jadi hambatan-hambatan menjadi guru yang profesional antara lain adalah;
- Minimnya niat guru untuk menjadi guru yang profesional (pasrah dengan kemampuan dan keadaan)
- Kurangnya waktu untuk bertukar pengalaman dengan guru-guru yang lain tentunya mengenai pengalaman-pengalaman PBM yang baik.
- Kurangnya minat guru untuk berinovasi.
- Fasilitas-fasilitas modern yang menunjang PBM. Seperti komputer, LCD, dan media-media yang lain.
Sekolah yang memberikan tugas kepada gurunya untuk menganalisa setiap soal yang di ujikan setiap kali ulangan itu sangat baik. Karena dapat memberikan pengalaman tersendiri dan bisa jadi guru tersebut menjadi analisator yang baik seperti yang diharapkan oleh pihak sekolah. Untuk menganalisa soal memang memerlukan waktu yang lama, tapi kalau semua ada kunci jawabannya apakah masih tetep lama? Apa itu harus dikerjakan sendiri? Seorang guru bisa meminta bantuan siswa atau keluarga dirumah. Soal yang di analisa ini sangat bermanfaat sebagai acuan untuk membuat soal pada ujian berikutnya dan mengenai soal yang sudah valid mungkin juga dipakai lagi untuk ujian berikutnya, tapi dengan syarat tidak pada tenggang waktu yang terlalu dekat.
Valid tidaknya suatu soal sangat ditentukan oleh kondisi siswa dan keadaaan serta kesiapan siswa menghadapi tes itu memang benar, tetapi perlu diperhatikan juga kemampuan kelas A dan kelas B sama atau tidak?. Jika berbeda maka yang harus diperhatikan adalah standart kelulusannya bukan masalah valid dan tidak validnya soal.
Mengenai soal UAN saya memang kurang setuju karena melihat lingkungan belajar yang berbeda-beda tentu tingkat kemampuannya juga berbeda. Sebagai contoh ; sekolah di kota besar memiliki media-media pembelajaran yang menunjang PBM dan sekolah di pedesaan sama sekali tidak memiliki, sedang kita tahu bahwa media pembelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil/kualitas PBM. Nah, dari sini dapat simpulkan bahwa kualitas PBM akan lebih baik yang di kota dari pada yang di pedesaan. Maka validnya soal dikota belum tentu valid jika di terapkan di desa.
Waktu yang baik untuk menganalisa soal tidak harus setelah tes, tetapi bisa kapanpun dan tidak harus oleh analisator. Apakah analisator tahu valid dan tidaknya soal sedangkan dia tidak tahu apa yang diajarkan guru-guru disekolah? Kembali lagi pada tugas guru yang sebagai pendidik sekaligus pengajar, hanya guru yang tahu valid tidaknya soal yang diberikan.
Jadi apa yang di paparkan oleh Bapak Zainurie menurut saya kurang tepat untuk di jadikan alasan sebagai suatu hambatan-hambatan menjadi guru yang profesional.
Terima kasih…………………!
