*Narimo ing Pandum*

Menulis adalah bekerja untuk keabadian…!

Hapus Point Card yang Dilembagakan

tinggalkan komentar »

    SUATU hari aku ingin bisa naik sepeda. Dengan tekad yang bulat, aku belajar sendiri karena orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya. Hari pertama belajar, kutuntun sepeda mondar-mandir di jalan. Panasnya terik matahari, menawarkan menggosongkan kulitku, seolah-olah melarangku untuk belajar. Hari kedua, aku mencoba naik, kukayuh sepeda sambil duduk di bawah karena aku belum sampai sadel.

    Sepeda yang aku pakai belajar waktu itu adalah sepeda ibuku yang besar. Jatuh-bangun tidak membuatku menyerah, satu tujuanku, aku ingin bisa naik sepeda. Akhirnya aku bisa naik sepeda hanya dengan belajar dua hari saja. Lain dengan teman-teman seumuranku–bahkan lebih tua dari aku, mereka sebagian besar belum berani sama sekali. Memang mereka sudah dibelikan sepeda mini, tapi namanya tidak berani, disuruh, dipaksa dan dimarahi orangtuanya pun, tetap tidak berani.

ILUSTRASI di atas menunjukkan bahwa belajar membutuhkan kebebasan dan tidak bisa dipaksakan. Belajar dengan paksaan tidak seefektif jika dibandingkan dengan belajar sesuai keinginan diri orang yang ingin belajar. Belajar akan baik, jika belajar sesuai apa yang kita harapkan.

Belajar tidak perlu dijanjikan sesuatu, biarkan ia menemukan sendiri apa makna yang ia pelajari. Belajar dengan diiming-imingi/dijanjikan sesuatu, akan membuat mereka mengejar apa yang telah dijanjikan itu saja. Sehingga, mereka tidak akan pernah terpikirkan selebihnya—makna dari yang mereka pelajari, dalam mengikuti kegiatan belajar itu.

Mulai tahun angkatan 2007, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, telah resmi memberlakukan Kredit Keaktifan Mahasiswa (KKM), ini berlaku untuk seluruh mahasiswa UKSW mulai angkatan 2007 dan angkatan berikutnya.

Dengan diberlakukannya KKM ini, mahasiswa dituntut untuk memenuhi sejumlah point yang sudah ditentukan oleh Universitas, jika mereka tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut, maka mahasiswa terancam tidak dapat mengikuti ujian skripsi.

Point ini bisa didapatkan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Kemahasiswaan/Universitas. Seperti; seminar, outbond, kegiatan bakti sosial, pentas seni dan sebagainya.

Lalu apa hubungan KKM dengan skripsi? Ini akan selalu menjadi perbincangan hangat mahasiswa, ketika mereka tidak berani menyampaikan ke Universitas, mengenai apa yang selama ini menjadi keluhannya.

Pengalaman itu penting, tapi pengalaman yang dimaksud di sini adalah pengalaman itu muncul berdasarkan keinginan diri orang tersebut. Bukan pengalaman berdasarkan tuntutan yang belum tentu sesuai dengan keinginan atau harapan mahasiswa.

Memotivasi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman lebih itu perlu, tapi jangan dilembagakan —tuntutan resmi dari lembaga, dan jangan sampai hal ini memberatkan mahasiswa. Sebaikanya motivasi ini harus sesuai bidang/jurusan yang diambil mahasiswa agar dapat menambah profeionalisme lulusan.

SEDIKIT bercerita, di FKIP ada beberapa fungsionaris Senat Mahasiswa Fakultas dan dosen menyatakan bahwa Malam Keakraban (Makrab) 2008 itu wajib. Setiap mahasiswa angkatan 2008 dan 2007 yang dulu belum ikut makrab, diwajibkan untuk ikut dalam makrab itu. Setiap mahasiswa peserta makrab, harus membayar 85.000 rupiah.

Bagiku, uang 85.000 rupiah ini sayang kalau hanya untuk ikut kegiatan seperti itu. Menurutku, menjalin keakraban antar mahasiswa tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu. Mending aku gunakan untuk membeli buku-buku. Ya, tapi banyak juga yang ikut makrab, ketika aku tanya mereka, tujuannya hanya untuk mencari point —bukan sepenuhnya menjalin keakraban antar mahasiswa.

Suatu kegiatan akan berjalan dengan baik jika peserta memiliki antusias dalam mengikutinya. Begitu juga sebaliknya, hal ini akan sangat berbeda sekali jika suatu kegiatan diikuti oleh peserta yang hanya mencari sertifikat/point. Bagi mereka yang berniat mendapatkan ilmu dari kegiatan tersebut, secara tidak langsung dia akan mengikuti dengan baik tetapi bagi mereka yang hanya ingin mendapatkan sertifikat/point, dia bisa seenaknya saja.

Sepertinya UKSW perlu belajar dari pengalaman ibunya Thomas Alva Edison. Ibu Thomas tidak pernah putus asa meski anaknya dicap “dedel” (bodoh) oleh pihak sekolah. Tapi Ibu Thomas selalu memberi motivasi kepada anaknya. Dia percaya bahwa anaknya baik dan memiliki kompentensi luar biasa. Hanya saja dunia belum menemukannya. Penerimaan dan kepercayaan ibunya, melahirkan rasa percaya diri yang sangat besar, semangat yang luar biasa dan penerimaan diri yang bagus bagi Thomas. Dari penerimaan yang tulus tersebut, membuat berkembangnya rasa percaya diri yang baik. Bahkan, mampu memiliki citra diri yang baik serta kemampuan mengendalikan emosi yang baik pula pada Thomas dan hingga akhirnya suatu hari Thomas Alva Edison menjadi penemu yang dikenal dunia. Dan perlu diketahui, Ibu Thomas tidak pernah menuntut anaknya untuk menjadi seperti “ini”.

Untuk mewujudkan lulusan yang maksimal dan ahli, biarkan mahasiswa bebas berkreasi sendiri. Sediakan saja wadah-wadah yang bisa memberi tambahan ilmu sesuai dengan apa yang menjadi keinginan mahasiswa. Seperti; pelatihan-pelatihan karya tulis, komputer, seni, olahraga, dsb. Intinya, semua itu bukan berwujud tuntutan (paksaan) kepada mahasiswa untuk harus mengikutinya.

Secara pribadi aku sangat tidak setuju dengan KKM ini, tapi aku sadar kalau pengalaman dari luar kurikulum perkuliahan yang ada di Progam Studi itu juga penting. Sehingga akhirnya menggugah batinku untuk mencari pengalaman ekstra diluar jam kuliah.

Jadi yang terpenting adalah, memotivasi, memberikan pemahaman bahwa pengalaman luar itu penting, dan menyiapkan wadah untuk menyalurkan bakat mahasiswa serta keinginan mahasiswa. Hal itulah yang menurutku perlu dipikirkan dan diterapkan untuk memberikan nilai plus lulusan. Yang jelas semua bukan atas dasar tuntutan kepada mahasiswa.

Secara pribadi aku sangat tidak setuju dengan KKM, bagaimana dengan Anda?

Subiharto
Mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Tulisan ini telah dimuat di Majalah E-Time, edisi cetak-April 2009 dan Online—Pers Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Written by Subiharto

April 16, 2009 pada 11:38 am

Ditulis dalam Kepemimpinan, Pendidikan

Ditandai dengan , ,

Tinggalkan Balasan