*Narimo ing Pandum*

Menulis adalah bekerja untuk keabadian…!

BT ; Kudu Misuh

with one comment

Berawal dari siang yang menjenuhkan, aku memutuskan diri untuk segera menyelesaikan tugas-tugas kuliahku dan kembali memilih menuruti “kehendak hati” daripada hanya menuruti kehendak nafsu dosen. Bagaimana tidak, hampir setiap hari tugas pasti ada, ah…, biarin saja, males ngomongin dosen. Makan hati juga, lama-lama.

***

Dunia semakin sempit, kesempatan melangkah semakin dipenuhi tantangan. Dibalik semua itulah aku mempunyai mimpi. Mimpi yang bukan mimpiku sendiri, tapi mimpi, tuntutan dari orang tuaku—rekomendasian.

Bejo Saputro copyHuh, kapan aku bisa berdiri sendiri? Ini-itu semua sudah ditentukan, diatur, ditarget, “kowe kudu ngene, trus ngene, ben mbesuk kaya kae, penak, bayare dobel, ” (Kamu harus begini, lalu begini, biar kelak jadi kaya dia, enak, gajinya doble,) kata Ibu, biasa nasehatin aku. Dia menjelaskan itu sambil menunjukkan orang-orang yang menurut dia sukses, pasangan yang dua-duanya PNS, sudah PNS, punya sawah di-garap sendiri, dan semua peghasilan kumpul jadi satu.

Dari situlah Ibu selalu menuntutku untuk memintaku kuliah, agar kelak bisa menjadi PNS dan bisa seperti mereka—yang biasa diceritakan Ibu ketika menasehatiku.

Cukupkah sampai disitu?

Aku sendiri heran kalau memang mereka ingin melihat anaknya bahagia, kenapa “materi” yang harus jadi pedoman utama—sepertinya. Jadi ingat pelajarang Kawruh Jiwa (KJ), dalam KJ, “Bungah-susah iku rak mung cathetan,” (se-ingat-Ku, he…, ), seperti, “rasa senenge wong kang ora madang sedino, trus weruh sega, pada karo rasa senenge wong sugih sing iso tuku motor,” (rasa suka/bahagia orang yang tidak makan satu hari, kemudian lihat nasi, sama dengan rasa suka/bahagia-nya orang kaya yang bisa beli motor).

Kalau sudah seperti ini, lalu apa yang kita cari lagi? Toh, rasa itu sama, yang namanya senang, ya begitu, susah, ya begitu. Lalu yang begini apa? Padahal, sejatinya, manusia itu tidak pernah puas, selalu saja ada keinginan—rasa ingin tahu, merasakan, dsb.

Kita bisa mengatakan bahwa hidup “Dia” enak, kaya, mau ini, itu selalu keturutan, tapi apakah mungkin “Dia” selalu merasakan kebahagiaan itu?

Memang materi ini sangat penting, di jaman yang semakin serba instan ini, mau apa-apa selalu ada penawaran “kemudahan,” meski ujung-ujungnya duit, tapi mungkin inilah yang membuat kita “manja”—sehingga memanfaatkan penawaran kemudahan itu. Dan mungkin itulah asumsi Ibu, bahwa dengan memiliki uang banyak, maka aku bisa hidup bahagia—bisa menikmati kemudahan-kemudahan yang ditawarkan seiring perkembangan jaman ini.

“Kudu misuh,” kadang keinginan itu muncul ketika Ibu sedang berbicara panjang lebar, menasehati dan mengarahkan aku. Karena aku merasa pemikiran kami bersebrangan. Aku cenderung ingin menikamti hidup ini, menjadi diriku sendiri, menjalani apa yang sebenarnya bisa aku jalani—tentunya sesuai kemampuanku.

Tapi, bukan berarti aku tak sayang sama Ibu lho…, Cuma, hal yang satu ini yang kadang membuatku agak “risih”, kalau sudah ngomong, lama, di ulang-ulang, padahal intinya sama—kamu jangn gini, jangan begitu, kamu harus begini, kamu harus begitu. Dan seolah-olah aku ini anak bodoh (mungkin juga sangat bodoh) yang tidak bisa memahami apa yang beliau sampaikan. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin itulah rasa ke-khawatiran seorang ibu jika nanti anaknya tidak bisa bahagia (ehm…ehm…,).

Meski begitu, hingga kini, aku semakin bingung, apa aku harus mengikuti kehendak mereka, meski itu bertentangan dengan apa yang aku inginkan?

Pertentangan batin ini selalu membayangi setiap langkah. Menghantui dalam kesendirian. Ingin berjalan sendiri, merasa tak mampu, karena aku sudah merasa terjebak dalam “bui” yang di siapkan kedua orang tuaku.

Yah, lagi-lagi, “kudu misuh” kalau ingat pesan mereka. Jika seperti ini, akankah aku bisa menemukan diriku sendiri dan menjadi diriku sendiri? Ehm…, semoga tak ada yang kisahnya sama dengan aku. Dan kalaupun ada, semoga bisa teratasi dengan sebaik mungkin. (Amin…!!!)

Written by Bejo Saputro

Mei 24, 2009 pada 1:41 pm

Ditulis dalam Bejo, Menulis

Ditandai dengan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. [...] orang banyak terarah menjadi seperti yang diinginkan orang lain (jadi ingat tulisan Bejo Saputro: BT ; Kudu Misuh***), bukan menjadi diri sendiri yang madeg mandireng pribadi. Banyak orang ingin seperti orang lain [...]


Tinggalkan Balasan