Sumbangan ; Masuk Kuliah (dulu)
Beberapa tahun lalu, aku sempat mencita-citakan diri menjadi seorang “prajurit”,(ehm…ehm…,) tapi karena tidak ada dukungan orang tua, akhirnya aku mengurungkan niat itu. Merantau, mencari pengalaman, menjajaki kerasnya Jakarta dan mencari uang sendiri, aku coba. Mulai dari karyawan kontrak di Robinson—Blok M Mall, sampai jadi kuli bangunan salah satu perumahan di daerah Cikunir—Bekasi. Tapi semua itu tidak bertahan lama, setengah tahunan, aku sudahi petualangan itu, dan aku putuskan untuk kembali ke kampung halaman.
Di balik itu semua, kedua orang tuaku berniat menguliahkan aku. Tapi melihat aku yang ingin menjadi prajurit, mereka nampak enggan memaksaku untuk mengikuti kehendaknya.
Kepulanganku disambut dengan baik oleh mereka. Meski akhirnya, kembali ke kesibukan orang desa, bekerja, nguli/buruh di sawah. Dan itulah yang aku lakukan setibanya di kampung. Tapi mungkin, karena aku ada di rumah dan berkumpul lagi dengan mereka inilah yang membuat mereka nampak senang.
Di sela kesibukanku mencari uang saku sendiri, aku mikir, apa aku akan seperti ini terus, mencari rumput, mencangkul, ntraktor (membajak sawah), yang semuanya berujung tidak berkepastian penghasilan. Merenung, merenung dan menyendiri, (sampai diam-diaman/”satron” sama orang rumah—Bapak dan Ibu), hingga pada suatu hari aku memutuskan mengikuti kehendak ke dua orang tuaku, kuliah.
***
Tak lama keputusan itu ku ambil, akupun mendaftarkan diri di dua Perguruan Tinggi (PT). Keduanya PT swasta, satu di Semarang, satunya lagi di Salatiga. Sesuai jadwal yang sudah di tentukan dari masing-masing PT, aku mengikuti tes keduanya, tapi pengumuman dua PT ini, lebih cepat yang di Semarang. Di Semarang, beberapa hari setelah tes, pengumuman pun berlangsung, aku diterima sebagai mahasiswa cadangan, dan harus ikut tes wawancara untuk bisa masuk ke PT tersebut.
Dalam wawancara itu aku dan yang mewawancarai aku, seolah-olah membuat transaksi/kesepakatan memberikan sumbangan pada PT. “Mas begini, ini ada mahasiswa yang sudah sanggup memberikan sumbangan ‘. . . juta’, kalau anda mau lebih tinggi dari ini, peluang anda akan diterima kuliah di sini sangat besar, bagaimana?” kata Ibu yang memwawancaraiku,
Saya pikir-pikir dulu Bu, Aku tercengang…, wawancara macam apa ini? dalam pikiranku bertanya heran.
Aku sempat bingung, jika aku tidak membayar, pasti aku tidak akan masuk, sedangkan peluang masuk di PT Salatiga sangat minim, karena pesaingnya jauh lebih besar.
Okelah, akhirnya aku iyakan tawaran ibu itu, meninggikan kesanggupan uang sumbangan dari pada yang lain—meskipun aku tak bayar langsung saat itu juga. Tapi, yang membuat aku bingung saat, uang sumbangan itu paling lambat harus dibayarkan keesokan harinya.
Dalam pikiranku, misalnya orang tuaku tak mau membayar, ya sudah, lah itu jalan satu-satunya masuk PT ‘itu’…, dan berarti tidak jadi kuliah di sana, peluang terakhir, tinggal menunggu pengumuman di Salatiga.
Selesai wawancara, aku pulang, lapor ke Ibu, Bu tadi begini-begini…, wis pokok’e ngono kui—aku cerita apa adanya ke Ibu. “Ya wis to, tunggu wae sing neng Salatiga,” Jawabnya.
Dengan rasa khawatir, cemas, campur-aduk tidak karuan, akhirnya menunggu pengumuman dari Salatiga menjadi keputusan kami dan alhasil, ada kabar baik dari Salatiga, karena aku diterima kuliah di sana dan tidak jadi kuliah di Semarang.
***
Yah, itu tahun 2005 yang lalu, kini kampus “itu” sudah lumayan megah dan kabarnya terus membangun gedung-gedung baru. Dan kira-kira sudah seperti ini ;

*** Megah Bukan? ***
ADA satu cerita yang hampir mirip kisahku itu, dimana ada calon mahasiswa mau masuk salah satu fakultas favorit di PT. Anak IPS bisa lolos dengan mudah hanya dalam satu kali tes, sedangkan anak IPA, tiga kali tes tetap tidak lolos—padahal anak IPA tersebut adalah juara kelas dan soal tes itu adalah soal-soal IPA.
Masuk akal tidak, jika anak IPS bisa mengerjakan soal anak IPA dalam satu kali tes saja? Padahal yang anak IPA—juara kelas pula, tiga kali saja masih tidak lolos?
Ini masalahnya hanya karena uang sumbangan yang berbada jauh, anak IPS memberikan sumbangan sebesar 100 juta, sedangkan calon mahasiswa yang seharusnya berkompeten untuk membidanginya—anak IPA, hanya dengan sumbangan minimal dan akhirnya malah tersingkir. (Joko Susilo, 2007 : 16).
Cerita itu aku katakan mirip karena disitu ada masalah pada uang sumbangannya dan si anak IPA tidak diterima karena uang sumbangan yang diberikan jauh lebih kecil, bahkan bisa di katakan (sangat) kecil dibandingkan anak IPS. Lalu bedanya ceritaku, si anak IPA itu juara kelas, kalau aku peringkat ke “sekian” (biasa-biasa saja) dalam peringkat kelasku dulu. Hehehe…,
Ada tidak ya, PT yang seperti aku ceritakan di atas? Semoga saja tidak ada—cukup dua itu saja, karena kalau ada banyak, mungkin kalangan keluarga golongan menengah kebawah, akan hanya bisa bermimpi untuk bisa mengenyam bangku perkuliahan.
