Merantau, Demi Ilmu Sang Anak
ILMU pengetahuan dan pengalaman adalah hal yang paling berharga dalam hidup. Dengan ilmu dan pengalaman yang luas, kita bisa melakukan segalanya dengan mudah. Di Indonesia ini, minat orang untuk menyekolahkan anaknya masih tergolong rendah. Sebagian masyarakat masih memiliki pemikiran bahwa tanpa sekolah pun, mereka bisa hidup, dan ada pula yang beralasan karena biaya pendidikan sangat mahal. Selain itu ada juga yang berpedoman “wong kere yo kere, ra usah ngimpi dadi wong gedhe”, (orang miskin ya miskin, tidak usah mimpi untuk jadi orang kaya/sukses). Jadi, karena itulah mereka tidak sekolah dan tidak menyekolahkan anak-anaknya. Dengan pernyataan tersebut, bisa di ambil kesimpulan bahwa masyarakat kecil selalu pasrah dengan keadaan dan lebih memilih untuk hidup dengan keadaan yang itu-itu saja. Dari paparan di atas, timbul pertanyaan dalam diri saya, bagaimana cara memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan.
Di jaman serba susah ini, untuk mendapatkan suatu pekerjaan tidaklah mudah, salah satu syarat utamanya adalah pendidikan yang memadai. Dengan fakta seperti ini, tentu masyarakat harusnya berpikir dan termotivasi untuk menyekolahkan anaknya, kalau bisa, ke jenjang lebih tinggi. Tapi ternyata tidak. Masyarakat belum termotivasi sama sekali dengan adanya hal ini.
Suatu contoh nyata pada sebuah keluarga, tinggal di desa Kembang Sore—Kecamatan Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Keluarga ini memiliki dua orang anak, keduanya wanita. Selisih umur mereka tidak jauh, kurang lebih dua tahun. Rumah ukuran ± 12 x 14-an, tergolong sempit untuk lingkungan petani—tidak cukup untuk menampung hasil tani, meski hanya sedikit. Keadaan ekonomi pas-pasan, tidak membuat orang tua, dua putri ini, menyerah dengan keadaan. Orang tua ini tetap berusaha, menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, dengan niat membahagiakan kedua anaknya, dan agar anaknya tidak mengikuti jejak mereka.
Sang ayah, berbadan kecil, kulit hitam, tidak banyak bicara ini, dulunya adalah seorang buruh pada salah satu keluarga di Desa tetangga, saat itu menjabat sebagai Kepala Dusun. Suwarno, namanya. Setelah lama menjadi buruh, Suwarno keluar dari pekerjaan itu, dan memilih merantau menjadi tukang batu ke Jakarta, Surabaya, dan ke daerah-daerah lainnya. Hari-hari Ia lalui dengan jauh dari keluarga. Betapa besarnya pengorbanan sang ayah, demi menjauhkan anaknya dari garis kemiskinan. Sejak anaknya masih kecil, sang ayah ini selalu merantau hingga kedua anaknya duduk di bangku perkuliahan.
Pada pertengahan tahun 2008 ini salah satu anaknya lulus D2 PGSD di salah Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga-Jawa Tengah. Betapa gembiranya kedua orang tuanya menyabut anaknya lulus dengan menyandang gelar “Am.Pd”.
Selang beberapa minggu setelah wisuda, putri pertama dan sudah bergelar Am.Pd ini di lamar oleh seorang anggota TNI, kemudian melangsungkan pernikahan sekitar pertengahan Agustus 2008 lalu.
Memang kesuksesan berwujud materi belum nampak dari anaknya ini, tapi kesuksesan memberikan ilmu kepada anaknya sudah nampak jelas dari bukti kelulusan yang ada.
Kegiatan yang dilakukan sang ayah hingga sekarang masih tetap sama, yaitu merantau kesana-kemari mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan untuk membiayai anaknya yang ke dua, yang masih kuliah di UKSW.
Suatu semangat keluarga yang patut menjadi teladan untuk masyarakat dalam memberi bekal ilmu kepada anak-anaknya.
DARI cerita singkat ini, saya berpikir, jika semua orang memiliki pemikiran seperti ini, mungkin Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dalam hal pendidikan khususnya. Dan juga, masa depan bangsa Indonesia akan lebih cerah dari apa yang ada sekarang ini.
Saya berharap, semoga pengalaman keluarga ini dapat membuka pemahaman baru betapa pentingnya belajar/sekolah.
“Kepada seluruh masyarakat Indonesia, bangkitlah, jadikanlah pendidikan/ilmu sebagai modal utama untuk mengubah masa depanmu dan masa depan bangsamu.
Jadilah orang yang di cari oleh uang dengan bekal ilmu kita.”
Oleh : Subiharto (Bejo Saputro)

karena asumsi, kalau kuliah nanti akan jadi (lebih) kaya.
padahal, kuliah dan pekerjaan hasil kuliah, hanyalah salah satu cara menjalani hidup.
banyak orang sukses hasil ‘drop out’ dari bangku kuliah,
gimana mas bejo?
wit
Juni 30, 2009 at 4:15 pm
Yah, klo dipikir-pikir, mereka “drop out” mungkin karena sudah memiliki pedoman sendiri yang matang atau keyakinan bahwa tanpa kuliah mereka yakin bisa menjadi sukses.
Tapi ini konteksnya niat serta kegigihan orang tua membekali ilmu pada anak-anaknya. kerena minimnya ilmu yang dimiliki orang tua.
Nah, maka dengan jalan menyekolahkan, syukur2 sampai bangku kuliah, diharapkan dengan ilmu yang di dapat, mampu mengubah nasib anak2 mereka menjadi lebih baik.
Bejo Saputro
Juli 1, 2009 at 7:53 am