*Narimo ing Pandum*

Menulis adalah bekerja untuk keabadian…!

Siasat Memaksimalkan Kinerja Persma

tinggalkan komentar »

TULISAN Muhammad Abdullah Badri yang dimuat dalam rubrik ini (SM, 18 Juli 2009), dengan judul Persma dan Problem Konsistensi —tentang ungkapan pengalaman dalam Pers Mahasiswa (Persma), dan Nana Rosita Sari yang dimuat dalam rubrik ini (SM, 25 Juli 2009), dengan judul Komitmen Anggota Persma—tanggapan atas tulisan Abdullah.

Keduanya sangat menarik dan saling mengisi. Abdullah mengeluhkan apa yang di alaminya dan Nana menanggapi serta menawarkan solusi sementara. “Dibuat pengumuman kepada semua mahasiswa di fakultas atau di luar fakultas untuk menyumbangkan karyanya, baik laporan berita, artikel, esai, cerpen, atau puisi,” solusi Nana.

Namun bagi saya kurang sependapat dengan solusi yang di tawarkan Nana. Sebagai Pers, hendaknya kita itu di cari mereka,—penulis/kontributor—bukan kita yang meminta mereka. Persma seperti itu, akan kehilangan muka.

Dimana anggotanya? Apa yang di lakukan anggota Persma selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini kemungkinan akan muncul. Menjawab apa adanya seperti yang telah dikeluhkan Abdullah akan menjatuhkan nama pers mahasiswa tersebut.

Maksimalkan peranan anggota.

Sedikit berbagi cerita. Karena apa yang terjadi di Persma yang digeluti Abdullah, sama seperti yang terjadi di Scientiarum. Kebetulan saya tergabung pula dalam pers mahasiswa Scientiarum—kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Dalam Persma kami, menekankan dan memaksimalkan fungsi masing-masing anggota yang ada dalam struktur, selalu menjadi prioritas. Saling mengingatkan, memperkuat koordinasi, saling sumbang ide dan gagasan selalu terjadi dalam pertemuan rutin tiap minggunya. Perlu diketahui bahwa, meskipun begitu kami tidak pernah memaksakan—semua kembali pada masing-masing anggota—dan keputusan ada di tangan setiap anggota.

Kita harus sadar dan tidak bisa mutlak menyalahkan mereka. Tugas mereka bukan hanya menekuni Persma, tapi juga kuliah. Dan untuk menyikapi hal ini dibutuhkan kejelian dalam membagi waktu agar semua bisa berjalan bersama-sama. Intinya jangan sampai karena menggeluti Persma, kuliah jadi terbengkalai.

Hemat saya, biarkanlah mereka. Mungkin itu merupakan salah satu proses pendewasaan diri mereka. Jangan jadikan terbitan menjadi prioritas utama, namun jadikanlah Persma sebagai sarana belajar bersama dan berbagi bersama dalam kaitannya belajar jurnalistik maupun menulis yang lain. Namun, upaya memotivasi mereka harus tetap ada.

Rekrut Anggota Baru

Membuka lowongan baru bagi mahasiswa yang ingin bergabung, mungkin bisa menjadi satu solusi. Misal, memberikan satu syarat untuk bergabung, harus mengumpulkan tulisan (bebas) dan siap untuk mengedit tulisannya tersebut hingga layak di konsumsi publik.

Maksud saya, tulisan yang dikirim sebagai syarat bergabung di Persma itu dikoreksi oleh redaksi. Kalau bisa, berdayakan anggota lama yang malas tadi untuk membantu mensukseskan agenda ini. Minta pada mereka untuk menunjukkan point-point mana yang sekirannya perlu diperjelas, dikembangkan, dst. Dan hasil dari anggota baru itulah yang di terbitkan.

Jadi, selain mendapatkan anggota baru, terbitanpun bisa jalan. Begitu solusi dari saya.

Written by Bejo Saputro

Agustus 22, 2009 pada 12:59 pm

Ditulis dalam Belajar Menulis, Menulis

Ditandai dengan ,

Tinggalkan Balasan