Tangis Harap akan Kebijakan
PERBINCANGAN hangat mewarnai komunitas dunia maya dan kaum pemerhati hiruk-pikuk dunia politik. Panasnya pembahasan, wacana siapa yang akan duduk dan (hingga) telah duduk di kursi senayan pun selalu menuai kontroversi. Pertanyaan dalam konteks meragukan orang-orang terpilih di kursi pemerintah bak reflek seseorang ketika kaget mendengar ledakan meriam.
Sedikit menilik sejarah, konon Indonesia negara kaya. Tak bisa dipungkiri bahwa dunia pun mengakui hal ini. Lahan pertanian luas, daerah perairan yang luas, dan semua bisa menjadi sumber penghasilan pangan untuk menyambung hidup seluruh masyarakat di bangsa ini.
Semua itu kandas. Semua itu kini hanya wacana. Masyarakat seolah tak tahu kalau itu ada akibat kecenderungan terpancing mengikuti segala kontroversi tingkah polah para penguasa. Segala kelangkaan pangan, kemiskinan, akibat kebijakan sepihak elite politik membuat rakyat terombang-ambing dikesehariannya.
Dapat dilihat, hingga kini petani kesulitan dalam mencari pupuk yang konon disubsidi oleh pemrintah. Kelangkaan pupuk ini membuat kaum terpontang-panting dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Penggusuran berkedok penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi tontonan keseharian dalam layar televisi mengalahkan serunya film laga, selain mengisi headline koran, majalah, dsb. Perenggutan tiada ampun ini terjadi. Sadis, mungkin bisa disebut seperti itu.
Dunia pendidikan pun tak luput dari akibat ulah penguasa. Hak mendapatkan pendidikan hanya menjadi pelengkap dalam idelisme UU yang konon dijadikan acuan mensejahterakan rakyatnya dengan semakin meningkatnya biaya kian tahun.
Dari pribadi, tak penting juga pemaparan ini. Pemahaman lebih dalam ada pada masing-masing yang merasakan imbas ulah sang penguasa.
MENGACU pada segala fenomena itulah perbincangan serupa tentang beban rakyat menggugah hati, memancing bersuara. Tak jarang terlihat di layar kaca, demo mahasiswa tergabung pula dengan masyarakat memaksa diri melakukan kekerasan karena jenuh dengan segala kelembutan sikap berharap keadilan. Mungkin ini salah, tapi mungkin ini juga inilah jalannya.
Ironis, tapi begitulah adanya. Kegerahan kalangan, menuai konflik berimbas pada orang tak berdosa, tak jarang terjadi. Pedulikah wakil kita?
Rakyat ini berharap pada penguasa bak budak meminta kebijakan sang majikan. Terus meminta tiada henti menjadi jurus andalan dalam bertindak demi meluluhkan hati majikan.
Memang tak sepenuhnya sang penguasa salah. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab atas terciptanya kesejahteraan yang diharapkan bersama. Semua terjadi karena sebab-akibat, entah akibat masyarakat ini terlalu mudah untuk dipermainkan sang penguasa atau sang penguasa yang murni mementingkan pribadinya tanpa melihat rakyatnya.
Menggugah hati para kaum penguasa bak menggempur karang di dalam samudra. Kekebalanya melebihi kerasnya baja. Mungkin ibarat ini terlalu keras, tapi nampaknya pas, melihat banyaknya korban terlantar akibat kebijakan sepihak yang menuai tangis kesengsaraan rakyatnya.
TENTU kita tak butuh pemimpin yang semacam itu. Kemurnian dan ketulusan hati dalam bertindak mengutamakan rakyat menjadi harapan bangsa ini.
Terus berusaha, berpikir positif, dan tak putus asa dengan berbagai kegagalan kepemimpinan terdahulu, harus tertanam kuat dalam diri masing-masing rakyat bangsa ini. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Bangkit, optimis bahwa kemenangan akan teraih, kesejahteraan akan terwujud itulah yang akan menuntun kita selangkah demi selangkah dalam mewujudkannya.
